|
kenapa judulnya satu bulan terakhir bersama ERM? ya karena akhirnya saya memutuskan officially bahwa "i'm leave". dan yang tidak saya duga diawalnya, keputusan ini sangaaat mebuat hati saya PLONG. luarbiasa LEGA. akhirnya saya bisa terbebas dari jeratan drama yang selama ini menjerat. haha, pake majas hiperbola nih. Tadi malam, saat saya bercerita ke suami saya bahwa saya udah officially keluar dan tidak mau lanjut lagi disini, jawab suami saya cuma: "ya udah ga papa." haha. Alhamdulillah. saat saya korek kenapa cuma itu jawabnya, trus nanti gimana gimana gimana? "ga papa, kan udah dari lama eva sebut mau keluar".
iya, sebenarnya sudah dari beberapa bulan yang lalu saya ingin sekali keluar dari work order yang penuh drama ini. tapi beberapa kali juga menahan diri, karena pekerjaan disini fit sekali sama bidang keahlian saya, dan juga usernya baik-baik. tapi apamau dikata, tidak semua kondisi ideal. saya juga capek sampai muak rasanya terpaksa jadi "bad guys" disini. Alhamdulillah. tinggal perlu menjalani satu bulan lagi. this doesn't mean that I am give up. this is just, I know my limit. Saya hanya akan menikmati satu bulan terakhirku bekerja di wo yang bersejarah ini, enjoy! to be continued.
0 Comments
Education is the passport to the future, for tomorrow belongs to those who prepare for it today -Malcom X- Dalam perjalananku menuju minas, dimobil Pak Endi. jam 08.59 baru berangkat dari Rumbai. saya ingin menuliskan masa-masa kuliah S2 saya, sebagai salah satu motivasi pribadi saat ini yang sedang penat-penatnya. Sebagai seorang emak-emak, kejadian ini sudah keseeeekiiian kalinya saya alami. sebenarnya tidak ingin saya bergantung dengan ART, semua pekerjaan rumah bisa diatasi, cuci gocok, ada laundry tinggal call. Makan tinggal masak, atau call via go food. yang agak bikin mules kalau ART berulah itu, ya ijin-ijin kerja. terlambatlah, bolos lah,, paling parah ga masuk seharian. lah gimana lagi. Banyak yang Tanya kenap kerja anak gimana dkk. lah gimana ya.. bingung juga saya jawabnya. samahalnya saat saya memutuskan ambil kuliah S2, anak masih balita, kalau saya pasrah diam aja dirumah sama mas aidan, suramlah masa depan kami. Suntuk juga. jadilah saya ambil kuliah S2 di Sekolah Pascasarjana UNDIP. Saya habiskan waktu saya di rumah Pematang Reba, Inhu selama 1,5 tahun dengan fulltime mengurus aidan sambal curi2 waktu belajar persiapan ujian masuk UNDIP. iya saya belajar. sering tetangga bertanya, karena saking hamper tidak pernahnya saya ikut ngumpul atu ngerumpi2 ibu-ibu kompleks. kadang mereka berkunjung kerumah dan menengok saya sedang baca buku, latihan soal atau banyak buku bertebaran. Belajar apa? buat apa? Saat itu, karena saya belum yakib bisa, yah masih sekedar impian saya buat kuliah - jadi saya tidak pernah menyebut tentang kuliah s2 kepada siapapun. Awalnya saya mendaftar untuk beasiswa LPDP, hanya saja banyak proses dan tahapan yang dilalui, sehingga menjadi tidak ideal lagi bagi saya dengan anak balita. Sampai akhirnya, tiba suatu waktu suami yang memulai pembicaaran masalah S2 untuk saya. pucuk dicinta ulampun tiba. just don't give up an have faith on you. Kuliah S2 adalah my greatest escape way. akhirnya saya pulang ke jawa, ke Semarang untuk tes masuk di Fakultas Hukum UNDIP. Alhamdulillah. tesnya lancer, saya bias mejawab hampir semua pertanyaan. Alhamdulillah, belajarnya sesuai, alhamdulilllah, diterima. Saya mebawa Mas Aidan meninggalkan Riau dengan hati berbunga dan bersemangat. Perjuangan kami dimulai diPemalang, tanpa suami. Masa-masa awal kuliah, MOS sekitar 2 minggu pertama saya harus masuk kuliah setiap hari, aidan saya tinggal dipemalang, saya PP pemalang Semarang, setiap hari. pergi menjelang subuh, pulang seusai maghrib. badan rontok luluh lantak, tapi sangat bersemangat. Setelah masa MOS saya kuliah 2 hari dalam seminggu, kamis jumat, saya tinggal dikost, berangkat kamis subuh, pulang jumat sore. Disemarang mostly ke kampus dengan jalan kaki atau naik becak kalau hujan. Dari kampus ke stasiun kereta api saya langganan Pak Ojek yang mangkal di stasiun. Nama bapak ojeknya, Pak Adi. Lama-lama langganan ojek nya ga hanya saya, mba Nani, Mba Vita sama mba Ani yang bolak balik naik kereta juga sama-sama jadi pelanggan ojek Pak Adi. Tidak jarang kami juga memesan tiket melalui bapak ojek Pak Adi itu. Terkadang, saya harus berjalan kaki dari stasiun sampai ke lokasi yang dilewati bus, jika musim panceklik tiba. hahaha.
Magister Epidemiology ini merupakan salah satu jurusan yang padat materinya, jadi jika jurusan yang lain masa kuliah S2 cukup ditempuh dengan 2 semester materi, bias lulus dalam 3 - 4 semester, lain hanya dengan magister epidemiology. Pemberian materi dalam kelas kami dapatkan hingga semester ke-3, sembari mulai pengerjaan proposal penelitian. tapi praktis penelitian tesis dilakukan di semester 4. Bagi yang excellent, terutama yang muda-muda, bias juga selesai kuliah dalam 4 semester. beberapa bulan lewat dari 4 semester menjadi bonus. lain halnya dengan saya, ibu dengan balita LDR plus bekerja freelance. saya 5 semester, diujung semester baru selesai. itupun saya masih hutang publikasi jurnal internasional. maapkeen Prof...
Kalian bisa cek silabus di masing-masing website universitas. Materi yang diberikan berdasarkan apa yang ada di transkrip ijasah adalah sebagai berikut, dengan sedikit penjelasan mengenai mata kuliah yang sangat mengena diingatan saya, beberapa nati diupdate lagi:
to be continued “When you can tell your story and it doesn’t make you cry, you know you have healed”
©Notsalmon.com” Tidak hanya dunia per politikan, yang terbagi menjadi beberapa kubu. Tergantung pemilihan apa, pilkada, pemilu. Tergantung pula siapa calonnya, pemilihan presiden kah? Gubernurkah? Bupati kah?. Dan ada juga dikalangan ibu-ibu, yaitu ibu rumah tangga vs ibu pekerja. Saya yakin, kebanyakan yang berpihak kepada ibu rumah tangga yang paling baik itu adalah ya para ibu rumah tangga. Pun sebaliknya, yang menyebut paling baik ibu pekerja kemungkinan besar adalah para ibu-ibu pekerja. Come on! Apa kalian semua ga capek memikirkan siapa yang lebih baik? Siapa yang lebih benar? Berapa banyak energy kita terbuang untuk memikirkan siibu rumah tangga yang satu itu ga berarti karena gada kegiatan dan Cuma di rumah aja. Atau sebaliknya memikirkan betapa si ibu pekerja itu mengejar karir tidak meperdulikan anak-anak dan suaminya. Saya tidak juga ingin ikut-ikutan membicarakan orang, disini saya juga curhat, seperti tulisan saya yang lain, saya menuliskan pengalaman saya yang sudah merasakan bagaimana menjadi full time ibu rumah tangga (IRT), Full time IRT dan freelance pekerja, bahkan Full time IRT dan full time pekerja. Kenapa saya sebut diri saya seperti itu? Ya karena, seorang ibu adalah seorang ibu. Semua orang pasti punya alasan dibalik tindakan yang diambilnya masing-masing. Siapapun yang memutuskan menjadi seorang full time IRT, bahkan full time pekerja, semua ada alasannya yang tidak perlu dijelaskan ke semua orang. Semua ibu juga punya masalahnya sendiri-sendiri, yang tidak sama antara ibu satu dengan ibu yang lainnya. Just be kind. Saling Sharing bukan saling serang. Saya pernah jadi full time IRT, senang sekali. Bisa full bersama anak saya, dari dikandungan sampai balita, mengurus full sendiri dengan segala kenikmatannya. Memasak, mecoba resep-resep baru, kesenangan memasak sarapan, mengantarkan suami bekerja, memasak makan siang, makan malam, menunggu suami pulang bekerja, dan juga kesenangan akan bebasnya waktu untuk berjalan-jalan kapan saja. Apa saya senang? Iya, saya senang. Kami bahagia. Suami ku senang, anakku sehat. Apa semua itu cukup? Tidak. Ada kalanya saya ditanya ngapain aja dirumah, ongkang-ongkang kaki kah? Tidur aja kah? Ga ngapa ngapain, rumah masih berantakan engga pagi, siang, sore atau malam. Tiap dating berantakan. Pun rasa sakit hati ketika diremehkan karena saya bukan siapa siapa hanya seorang ibu rumah tangga yang berharap dikasih sm suami. Ga bisa kerja. Bahkan pernah saya disuruh jualan apaja, buka kedai, kerja ditempat orang dengan sukarela entah bayarannya asalkan keliatan kerja. Tau nda. Saya sampai bilang seperi ini ke suami saya: “Buat bayar pengasuh setidaknya 600rb, dan saya disuruh kerja sukarela?, mending kamu bayar saya sebagai pembantu kamu daripada saya meninggalkan anak sama pengasuh tanpa dibayar”. Iya, mulut-mulut jahat bertebaran diluar sana. Koreksilah diri jangan sampai anugerah Allah ini kita buat untuk menyakiti orang lain. Naudzubillah. Maafkanlah saya jika perkataan saya pernah menyakiti anda. Singkat cerita, dari ujian-ujian kecil itu, sampailah pernikahan kami ke ujian yang saya anggap paling berat saat itu, hingga akhirnya saya putuskan kembali ke jawa untuk mengambil kuliah S2. Saya yang direncanakan akan ditinggalkan suami saya kuliah malhs aya duluan ninggalin suami saya sendiri. Iya saya kuliah S2 duluan. Pengangguran yang ga bisa bekerja yang disebut ga akan mungkin kuliah S2 itu, kuliah magister di UNDIP. Tanpa cerita, tau tau balik kejawa bawa anak buat ujian, urus ini itu diantar dan dibekali suami saya. Saya kuliah. Dan semua orang tercengang. Itulah cara terbaik menurut suami saya untuk menaikkan derajat keluarga kecil kami, terutama saya. Tahun-tahun kuliah S2 saya berat buat saya, tapi setidaknya saya ada harapan. Saya dan suami tidak dapat memilih untuk bekerja, karena aidan masih kecil. Pikiran saya tidak kosong hanya memikirkan komentar negative orang. Pikiran saya penuh dengan anak dan tugas tugas kuliah. Pikiran saya fresh. Positif dan semangat. Saya bahagia, meski harus LDR dengan suami. Saya bahagia dengan segala kegiatan yang saya punya. Dan Allah yang maha perkasa pun memberikan pertolongannya. Saya diberikan pekerjaan di semester pertama saya kuliah S2. Pekerjaan tanpa melamar. Saya sebut itu adalah bonus dari Allah. Ya, ini terkait postingan saya sebelumnya tentang “Pekerjaanku adalah bonus dari Allah”. Dan dimulailah saya menjadi fulltime IRT freelance pekerja. Ya, karena pekerjaan ini bersifat freelance, karena saya sambal kuliah. Dari hanya review dokumen, site visit 6 bulan sekali, hingga sekarang, site visit per 3 bulan. Pekerjaan freelance saya ini mengantarkan saya hingga selesai kuliah S2, membiayai 3 semester kuliah saya. Kadang, saya masih tidak percaya saya bisa kuliah S2 sendiri. Alhamdulillah. Allah yang Maha Kaya. Jadikanlah sholat dan sabar sebagai penolongmu. Jadikanlah Allah sebaik-baik sandaran yang tidak akan membuatmu kecewa. Dari peralihan antara IRT ke pekerja freelance, masih saja saya diragukan karena saya tidak seperti orang-orang bekerja pada umumnya. Saya tidak ada jam kerja. Tidak berpakaian seperti pekerja kantor / PNS. Banyak yang bertanya apakah benar saya bekerja? Cuma bohong buat nutup-nutupin ketidakmampuan. Ya Allah. Luaskanlah hati hambamu ini agar senantiasa bersabar. Hingga saya selesai kuliah S2, dan aidan masuk TK, serumah dengan suami yang juga ambil kuliah S2, saya bersenang senang dengan kehidupan bahagia keluarga kecil kami di yogyakarta. Saya menikmati lagi masa-masa memasak. Tetapi, negara api selalu mempunyai cara untuk menyerang negara air. Pun seperti kisah, bahwa pencapaian iblis yang terbesar adalah dengan menghancurkan rumah tangga, dengan berbagai macam cara mereka. Singkat cerita, saya pun akhirnya membawa aidan meninggalkan suami saya untuk kesekian kali nya. (meninggalkan dalam arti LDR saja). Yes. Saya yang direncakanan akan ditinggalkan suami saya, malah meninggalkan suami saya sendiri lagi. Lagi lagi, Allah yang Maha Perkasa memberikan pertolongannya kepada Saya. Allah yang tidak akan membuat saya kecewa mengabulkan doa-doa saya. Saya diberikan pekerjaan full time, dikota dimana kami bisa tinggal; bekerja bersama. Dan semua orang lagi lagi tercengang. Saya meninggalkan Yogyakarta yang penuh damai dengan hati tersayat. Suami saya ada kulaih s2 disitu. Anak sekolah terjamin, saya mengajar di stikes, freelance konsultan. Apalagi? Itu tidak cukup, untuk mereka. Jadilah saya membawa anak saya Muhammad Aidan Aqila Warman, pindah lagi ke Pekanbaru. Disinilah kami selama 10 bulan ini – dan suami ku tinggal menunggu wisuda nya. Sekarang, saya menyatakan diri menjadi seorang full time ibu, full time pekerja. And I am happy. Saya bersyukur. Hinaan orang tidak membuatku depresi dan pasrah. Tidak. Pun dengan kondisi sekarang bekerja rangkap, insyaAllah, Allah yang Maha Kuat akan menguatkan saya, Aidan dan suami saya. Saat ini, Saya, sebagai ibu pekerja, jam 00.29 saat ini masih menemani anak kesayangku bermain dengan sambal menulis artikel untuk blog. Iya, karena aidan baru bangun tidur jam 7 malam, jadi sekarang dia terjaga. Besok senin saya bekerja tidak menjadikannku mengabaikannya bermain sendiri sedangkan saya tertidur. Tidak. Saya selalu berusah menemani aidan saat dia terjaga. Saya masih selalu terbangun bersama aidan, terbangun subuh jam 3 pagi meskipun jam segini belum tertidur. Saya masih memasakkan sarapan dan menyuapkan & menemani makan aidan dipagi hari sebelum berangkat sekolah. Saya masih menyiapkan segala keperluan aidan sekolah full day nya dimalam hari sembari beberes rumah. Saya masih bisa menyuapkan dan makan malam bersama aidan, bermain dan membelikannya kue. Saya masih bisa memberikan bekal makan 2x sehari, masakan rumah sesuai selera aidan dan bukannya makanan catering sekolah. Saya masih bisa mebawa aidan makan berjalan keliling, ke kedai kopi kesukaan aidan di hari sabtu dan minggu. Kasih sayang saya sebagai ibu pekerja, tidak berkurang. Kuatir saya berlebih. Rasa takut & tidak aman berlebih. Saya berkerja dengan menguap tanpa menurunkan produktifitas. Saya kena tegur jika salah. Terlambat. Saya membuat sarapan tanpa sempat sarapan. Saya tertidur di jam istirahat makan siang. Saya kram saat sedang menyetir pulang kantor. Saya gunakan cuti saya tidak untuk berlibur. Saya gunakan cuti saya untuk pelatihan, atau untuk pekerjaan bonus dari Allah. Iya. Saya pernah berjanji tidak akan melepaskan pekerjaan apapun yang Allah berikan untuk saya, selain saya yang mereka lepaskan. Itu bentuk rasa bersyukur saya atas karunia Allah, bukan bentuk ketamakan bekerja merangkap. Tolong. Jangan berkata hal yang buruk mengenai apa yang anda tidak ketahui. Be kind. Berbuat baiklah dan dapatkan pahala. Bersyukurlah, karena bukan bahagia yang menjadikan kita bersyukur, tapi rasa syukurmu atas segala ketetapan Alah itulah yang menjadikan hidupmu bahagia. Alhamdulillah Pekanbaru, 13.08.2018 - 00.58 Ceritaku yang tak kan lekang oleh waktu well yeaah... saya adalah tipe old fashion, jadi saya dulu resign karena menikah dan mengikuti suami, tanpa pikir risiko. lugu. kejadian yang sangat diluar dugaan, saya alami minggu lalu, tepatnya hari selasa..
seharusnya sekarang adalah masa masa yang paling nyaman, saat usia kehamilan saya memasuki trimester ke dua, tapi apalah dikata.. saat suami sedang berada dinegara tetangga untuk menjalani operasi, kaki saya malah tersiram air panas mendidih.. kejadiannya berawal dari kebiasaan saya untuk mandi dengan air hangat,, saya memasak air panas ceret listrik dikamar, saya pindah ke ember. entah mengapa saat itu ember saya angkat,,padahal sudah terisi air panas, walhasilll tumpahlah isi semuanya ke kaki saya.. paling parah adalah kaki kiri saya dari lutut hingga ke bawah. berhubung kamar saya yang lumayan luas dan berada di lantai 2, puluhan kali saya menjerit, menangis meminta tolong tidak ada satupun yang mendengar. harusnya di dapur lt 1 ada dua orang pembantu yang mendengar.. saya berteriak sambil terus menyiram kaki saya dengan air dingin di bak mandi. sekitar 30 menit lebih saya teriak n siram air tanpa hasil, dengan tertatih saya berjalan mengambil hp dan segera menelfon pembantu saya agar cepat dibelikan salep di apotik. tapi, ada satu hal yang saya syukuri dari kejadian ini.. meski hati tersayat pada saat kejadian tidak ada yang menolong, saya bersyukur saya punya cukup waktu menolong diri sendiri. kenapa begitu? karena budaya disini adalah,, pertolongan yang diberikan pada kasus tersiram air panas, minyak panas, dan luka bakar antara lain adalah: dilarang terkena air, siramkan bubuk kopi atau tes, oleskan mentega, lumuri telur mentah, siramkan minyak tanah, oli atau bensin, dan masih banyak hal mennyeramkan yang lainnya. "ajaran yang menyesatkan bukan??" apalagi saat saya mendengar cerita dari adik suami saya (kelas 4 sd) yang beserta satu teman sekelasnya menemani saya menangis dalam kesakitan saat itu, bahwa saat kelas 1 SD dia pernah terkena tumpahan 1 kuali minyak panas di kakinya. pertolongan yang diberikan adalah dengan dilumuri bubuk kopi dan teh serta madu... tanpa "Air" kisah yang menyedihkan bagi saya, saat membayangkan sakitnya kulit saat dibersihkan dari bubuk teh n kopi dengan kain. "sepertinya saya masih jauh lebih beruntung dari adik saya itu..." saat pembantu saya datang, saya justru kena marah krn siram kaki saya dengan air, bukannya cepat2 membelikan saya salep obat luka bakar di apotik malah sibuk mencari bubuk teh, kopi, dll. smp teriak saya meminta segera dibelikan bioplacenton untuk pertolongan awal. saya segera mengolesi salep ke kaki dengan dibantu AC dan kipas angin. segera saya dibantu untuk pergi kedokter agar segera mendapat pertolongan lebih lanjut. ini adalah pengalaman nyata saya mengenai mitos mitos berbahaya yang terlanjur mengakar kuat di masyarakat awam. saya ingin bisa merubah mindset yang salah tersebut,, untuk menghindari orang orang yang saya sayangi mendapatkan penanganan pertama yang salah yang justru memperburuk kondisi.. dan saya akan memulai dari keluarga kecil saya.. mulai dengan suami saya... dan nanti, untuk anak kami tercinta, yang sedang kami nantikan kelahirannya.. Pertolongan pertama tersiram air panas Prinsip pertolongan pertama saat tersiram air panas adalah :
Pertolongan pertama pada saat tersiram air panas adalah sebagai berikut:
Sedangkan, hal yang harus dihindari saat tersiram air panas adalah:
Selain tersiram air panas yang buat saya "wow" banget sakitnya.. saya sering juga terkena minyak panas, yang paling parah meninggalkan bekas 2 garis dilengan tangan kanan saya hingga sekarang. kebiasaan memasak dan seringgnya terkena minyak panas membuat saya selalu menyediakan salep Bi#Pl#$%^&*n sebagai pertolongan pertama yang diolehskan setelah luka di siram dengan air mengalir. setidaknya, berikut adalah penanganan terkena cipratan minyak panas dan air panas. Jika tidak sengaja terkena cipratan air panas atau secara tidak sengaja terkena minyak panas dalam skala yang kecil, maka bisa bisa melakukan perawatan alami. Beberapa perawatan alami ini tidak disarankan untuk luka dengan skala area yang luas dan kondisi kritis.
Dampak terkena minyak panas
|
Life, is the classroom
My_LifeMeans: My life in words "Formal Education will make you a living;
Self education will make you a fortune." "Happiness is not something you postpone for the future.
it is something you DESIGN for the present. for right NOW" You decide every day to be happy by the choices you make every day. Archives
January 2026
Categories |
RSS Feed